Kamis, 13 September 2012

Kurikulum Kristen


Kurikulum  Kristen
EVA FREDERIKA, EUNIKE Y. NDIKEN, NOVIANA AMELIA, REGINA PUHIRI Universitas Pelita Harapan, Tangerang



Pendidikan adalah usaha manusia untuk mempelajari dan memperoleh pengetahuan. Menurut Alkitab, yang dalam pandangan hidup Kristen merupakan Firman TUHAN yang memiliki otoritas untuk kehidupan (Van Brummelen,2008,p.43), pengetahuan mengungkapkan pujian atas perbuatan Tuhan (Van Brummelen, 2009,p.118). Oleh karena itu pengetahuan seharusnya dipergunakan untuk mengagungkan kebesaran Tuhan bukan manusia yang adalah ciptaanNya. Landasan pelaksanaan pendidikan terdapat dalam tiga perintah Alkitab, yaitu Mandat Penciptaan, Amanat Agung, dan Perintah Agung(Van Brummelen,2009,p.120). Dalam Mandat Agung, Tuhan memberikan perintah penciptaan kepada manusia untuk menjaga dan melayani (Kejadian 1:28; 2:15; Mazmur 8:6-8). Sekolah harus memberikan pengajaran kepada murid untuk memiliki kemampuan dalam menjaga dunia ini, melalui materi kognitif dan keterampilan (Van Brummelen, 2009,p.120). Namun, karena manusia jatuh di dalam dosa, sehingga Yesus turun ke dalam dunia dan menjadi bagian dari panggilan Amanat Agung, agar manusia yang terpilih menjadi bangsa muridNya dan dipulihkan dengan menyerahkan hidup kepada Yesus Kristus. Oleh karena itu, sekolah harus dapat menantang murid untuk menyerahkan hidup kepada Yesus Kristus dan memahami implikasinya, artinya mengajarkan murid-murid untuk memakai kacamata Firman dalam menghadapi masalah-masalah pribadi maupun masyarakat, dengan mengembangkan karakter dan kecerdasan siswa untuk bertindak berlandaskan prinsip Alkitabiah yang diajarkan Yesus Kristus(Van Brummelen, 2009,p.120). Setelah dosa kita ditebus oleh darah Yesus Kristus, kita harus hidup di dalam Perintah AgungNya untuk mengasihi Tuhan Allah dengan sepenuh hati dan sesama manusia seperti diri sendiri (Lukas 10:27). Dalam hal ini, guru harus mengajarkan siswa mempelajari visi kekristenan dalam kehidupan dan membantu siswa membukakan karunia mereka dengan saling melayani satu sama lain, berbagi kebahagiaan, dan membantu menanggung beban(Van Brummelen, 2009,p.122).
Berdasarkan tiga perintah Alkitab di atas, tugas pendidikan Kristen secara keseluruhan memiliki dua dimensi, yaitu tugas penyembuhan dan tugas perkembangan(Wolterstorff,2004,p.351). Dalam tugas penyembuhan, sekolah harus dapat menjadi pengalaman yang menyembuhkan bagi para murid maupun para guru. Para guru harus mempunyai dua mata dalam menjalankan tugasnya di sekolah, yaitu satu mata untuk mendidik dan memperhatikan para muridnya dan satu mata berikutnya untuk menangis bersama para muridnya bila mereka terluka di luar sekolah agar mereka tahu bahwa sekolah adalah tempat yang aman untuk berlindung(Wolterstorff,2004,p.351). Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan bertujuan untuk mengajarkan pendidikan akademis dan moral. Dalam tugas perkembangan, para guru sekolah Kristen dan dewan sekolah Kristen bertugas untuk mendiskusikan dan memutuskan tentang proses belajar yang bertujuan memperlengkapi murid untuk melaksanakan tugas-tugas mereka dalam kehidupan seperti yang tergambar dalam 3 perintah Alkitab di atas(Wolterstorff,2004,p.338). Tujuan akhir dari dilakukannya kedua tugas pendidikan Kristen di atas yaitu untuk membuat para murid mencintai Tuhan dan melayaniNya dengan jiwa sebagai murid Kristus(Van Dyk,1997,p.20).
Kurikulum adalah kerangka dasar yang berisi tujuan dan sistematika suatu kegiatan belajar dan mengajar, sehingga sebelum melakukan kegiatan pendidikan tenaga pendidik harus menyusun kurikulum yang akan diterapkan dalam proses pendidikannya. Alkitab tidak menyediakan rumus untuk mengorganisasi kurikulum, tetapi Alkitab menyampaikan bahwa seluruh pendidikan harus digunakan untuk menumbuhkembangkan kehidupan yang taat (Van Brummelen,2008,p.96). Sehingga dapat dirumuskan bahwa visi kurikulum Kristen adalah menyampaikan pengetahuan kepada murid untuk suatu tujuan lewat satuan pembelajaran. Tujuan itu adalah tanggapan pribadi siswa terhadap pembelajaran, yang tidak hanya bersifat praktis, tetapi dapat juga berupa psikologi para murid yang merasa sukacita atas ciptaan Allah dan kasihNya serta berdukacita atas dosa(). Isi suatu kurikulum harus memuat berbagai aspek realitas yang telah diciptakan Allah untuk dihadapi dan dilakukan manusia. Aspek-aspek realitas itu meliputi pengakuan (iman), etis, politis, ekonomi, sosial, linguistik, logis, estetis, psikologis, biologis, fisik, spasial, kuantitatif, dan pembentukan budaya(Van Brummelen,2008,p.99). Oleh karena itu, misi kurikulum Kristen adalah memberikan aspek-aspek realitas dalam satuan pembelajaran untuk mengenalkan para siswa dengan keanekaragaman realitas tersebut dan membekali mereka untuk dapat berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat masa kini melalui kemampuan untuk berintegrasi dengan berbagai aspek realitas tersebut(Van Brummelen, 2008,p.96). Bahkan dalam semua pelajaran harus disinggung perspektif Kristen agar murid dapat menjalani kehidupan iman(Wolterstorff,2004,p.16).
Prinsip integrasi di atas memberikan kerangka pemahaman dasar akan pembenaran kurikulum Kristen yang berintegrasi dengan kurikulum pembungkus yang bersifat sekuler. Alkitab tidak menentang prinsip integrasi karena Allah menuntut umatNya untuk dapat menjalani kehidupan yang menyeluruh, seimbang, dan menghormati Allah dalam masyarakat(ad bg.kurikulum inti). Namun Alkitab, dalam Amsal 1:7, menuntut agar umatNya menjadikan takut akan Tuhan sebagai permulaan akan pengetahuan. Sehingga integrasi menjadi benar apabila menjadikan firman Tuhan sebagai fondasi pendidikan Kristen. Pada kurikulum Kristen yang berintegrasi dengan kurikulum pembungkus sekuler, kurikulum Kristen akan disampaikan secara implisit. Sifat implisit dalam konteks ini yaitu tersembunyi dari formasi legalitas terhadap lembaga yang berotoritas terhadap kurikulum pembungkusnya, bukan tersembunyi dari para murid-murid di kelas. Sebagai contoh, Sekolah Pelita Harapan yang memiliki fondasi kurikulum Kristen dan berintegrasi dengan IB Curriculum sebagai kurikulum pembungkusnya. Pada rencana pembelajaran yang diserahkan dari Sekolah Pelita Harapan kepada lembaga pemilik IB Curriculum, tidak dituliskan perspektif Kristen dalam penyampaian pembelajaran di kelas. Tetapi pada rencana pembelajaran pribadi milik sekolah dituliskan dengan jelas perspektif Kristen yang akan dipelajari murid-murid di kelas dan perspektif Kristen tersebut dideklarasikan secara jelas kepada mereka agar dapat mengetahui pengetahuan yang benar menurut Alkitab. Pengertian kurikulum tersembunyi adalah tahap pembelajaran yang tujuan pembelajaran atau isi pembelajarannya tidak dideklarasikan secara terbuka antara pendidik dan murid serta hanya beberapa murid saja yang dapat menangkap tujuan tersembunyi yang diberikan gurunya(Martin,1976). Penggunaan kurikulum Kristen yang berintegrasi dengan kurikulum pembungkus sekuler dapat dibenarkan, karena kurikulum Kristen tersebut tidak dijadikan sebagai kurikulum tersembunyi tetapi disampaikan secara terbuka dan jelas di dalam kelas agar murid-murid memahami pengetahuan sejati di dalam pembelajaran mereka.
Sekolah Kristen harus membimbing murid-muridnya untuk mengkomunikasikan dan membangun teori-teori yang sesuai dengan nilai Alkitabiah pada mata pelajaran sekuler yang diajarkan, bukan hanya sekadar melengkapi dan memperbaiki teori yang ada (Wolterstorff,2004,p.59). Untuk mewujudkannya, guru Kristen harus berani mengangkat isu-isu yang peka dan kontroversial untuk didiskusikan. Diskusi merupakan kegiatan yang sangat penting dalam kegiatan belajar mengajar karena lewat kegiatan ini guru dan murid-murid dapat bertukar pikiran dan saling mengajukan pertanyaan. Melalui jawaban-jawaban atas pertanyaan itu, guru dapat mengetahui seberapa jauh hasil pengajaran yang telah ditangkap oleh para murid-murid dan dapat mendorong murid-muridnya untuk berefleksi dan berkomunikasi (Van Dyk,1997,p.76). Seorang guru Kristen harus mampu mencari tahu pertanyaan-pertanyaan apa yang ada dalam benak murid-murid dan mendiskusikannya serta memberi jawaban (Wolterstorff,2004,p.204). Sehingga teknik belajar dengan diskusi dan pertanyaan sangat diperlukan. Ada beberapa teknik dalam berdiskusi(Salend,2008,p.378), seperti Collaborative Discussion Teams setelah guru menjelaskan murid membentuk kelompok untuk menjawab pertanyaan setelah itu mereka mempresentasikannya, Send a Problem murid dalam bentuk kelompok mengajukan pertanyaan-pertanyaan kemudian guru membuat daftar pertanyaannya dan pertanyaan-pertanyaan tersebut akan dijawab oleh kelompok-kelompok, dan Numbered Heads Together setiap murid di setiap kelompok berhitung dengan nomor urut yang berbeda dan di saatbguru menerangkan ia mengajukan pertanyaan tiba-tiba pada murid dengan nomor urut tertentu kemudian murid di tiap kelompok dengan nomor urut yang dipanggil akan berdiri dan memberi jawaban. Kegiatan praktek pun diperlukan dalam sekolah agar murid dapat dengan jelas melihat kuasa dan kasih Allah. Pertama, Activities-Oriented Approaches merupakan pendekatan pembelajaran yang menekankan pemahaman murid(Salend,2008,p.483). Pendekatan ini meliputi empat hal, yaitu Engagement mengidentifikasi aktivitas atau hal dalam kehidupan sehari-hari, Exploration mempelajari bagaimana hal itu dapat terjadi, Development menginvestigasi konsep bagaimana hal itu dapat terjadi dengan mencarinya di berbagai sumber, Extension mengaplikasikan pemahaman murid pada situasi yang berbeda. Kedua, Problem-Based Learning merupakan pendekatan pembelajaran yang menekankan pengaplikasian pengetahuan di dalam kehidupan sehari-hari(Salend,2008,p.485). Guru menunjukkan kepada murid-murid informasi dan permasalahan yang berhubungan dengan situasi kehidupan nyata dan murid mendiskusikan permasalahan ini dan hubungannya dengan kehidupan mereka. Strategi-stragi mengajar di atas dapat digunakan dalam porsi yang seimbang tidak cenderung memprioritaskan salah satu dari teknik-teknik tersebut. Sebelum memutuskan teknik yang akan digunakan, guru Kristen dapat melakukan tahap pada empat fase belajar (Van Brummelen,1998,p.109) berikut yaitu pertama, menentukan tingkatan, guru mengajukan pertanyaan dan memfasilitasi, murid menampilkan pengetahuan dari pengalaman. Kedua, penyingkapan guru-guru, guru menunjukkan keterikatan ide-ide dan konsep kunci, murid mengumpulkan informasi dan memperoleh pemahaman teori nonverbal. Ketiga, perumusan kembali, guru menyediakan kegiatan latihan, murid memecahkan persoalan dan bereksperimen. Keempat, transenden, guru memberi kesempatan dan pilihan serta membuka wawasan baru, murid mengarang dan mencipta serta menentukan tujuan hidup. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam kurikulum Kristen tidak hanya sekadar Chapel, pembacaan Kitab Suci, doa, dan lagu rohani saja yang penting, tetapi juga cara penyampaian pengetahuan di dalam kegiatan belajar mengajar karena dapat membentuk kepribadian murid. Oleh karena itu materi pelajaran baik dari buku cetak maupun sumber yang lainnya harus dipikirkan secara kritis oleh guru Kristen karena guru Kristen harus dapat mengajar pengetahuan yang sepenuhnya mencerminkan pengetahuan menurut pandangan Alkitab dan mampu menganalisis akar pandangan dunia dari dokumen kurikulum yang diterapkan sekolah (Van Brummelen,2009,p.113). Guru Kristen harus sangat berhati-hati dan bijaksana dalam menggunakan otoritasnya untuk menyampaikan kebenaran Firman Tuhan dalam pengajarannya(Berkhof,Van Til,2004,p.177).
Salah satu tugas yang dapat diberikan guru kepada muridnya yaitu tugas portfolio. Melalui tugas portfolio murid dapat menunjukkan hasil perkembangannya selama masa pembelajaran dengan mensintesis sesuatu dan menuliskannya dalam bentuk tertulis yang reflektif(Sandle,2008,p.513). Portfolio terdiri atas lima jenis(Sandle,2008,p.513), yaitu A showcase portfolio menuntut murid menunjukkan hasil sintesis terbaiknya dan digunakan untuk membantu murid dapat memasuki program sekolah tertentu, a reflective portfolio membantu guru, murid, dan anggota keluarganya untuk menilai pembelajaran murid termasuk sikap, strategi, dan pengetahuannya, a cumulative portfolio menunjukkan perubahan hasil dan proses yang dihubungkan dengan pembelajaran murid selama tahun ajaran sekolah, a goal-based portfolio area tugas ditentukan agar menghasilkan tujuan yang ditetapkan, dan a process portfolio memuat langkah-langkah dan proses murid dalam melengkapi suatu tugasnya. Portfolio tidak menjadikan pembelajaran terpusat pada murid apabila digunakan dalam dasar yang benar. Guru Kristen harus menekankan bahwa ketika murid-murid mengerjakan hal itu, mereka harus melakukannya dengan landasan yang terdapat dalam tiga perintah Alkitab, yaitu Mandat Penciptaan, Mandat Agung, dan Perintah Agung.
Pada akhirnya, sekolah Kristen harus dapat membudayakan kehidupan Kristen terhadap murid-muridnya dalam segala aspek kehidupan(Wolterstorff,2004,p.22). Guru adalah pemeran utama dalam dunia pendidikan karena yang secara langsung menyampaikan pengetahuan sejati terhadap murid. Oleh karena itu seorang guru Kristen berada di barisan paling depan dalam memenangkan jiwa murid-muridnya untuk menyerahkan hidup kepada Yesus Kristus.
DAFTAR PUSTAKA
Berkhof, L., Van Til, C.(2004).Dasar Pendidikan Kristen:Foundations of Christian Education.Surabaya:Momentum
Martin, Jane R,.(1976). What Should We Do with a Hidden Curriculum When We Find One?. Curriculum Inquiry, Vol. 6, No. 2. Retrieved May 15, 2011, from http://www.jstor.org/stable/1179759
Salend, Spencer J.(2008).Creating Inclusive Classroom:Effective and Reflective Practices (6th edition).New Jersey:Pearson Prentice Hall
Van Brummelen, H.(2009).Berjalan dengan Tuhan di dalam Kelas:Pendekatan Kristiani untuk Pembelajaran.Jakarta:Universitas Pelita Harapan
Van Brummelen, H.(2008).Batu Loncatan Kurikulum:Berdasarkan Alkitab.Jakarta:Universitas Pelita Harapan
Van Dyk, John.(1997).Letters to Lisa.Iowa:Dordt Press
Wolterstorf, Nicholas P.(2004).Mendidik untuk Kehidupan.Surabaya:Momentum


Kurikulum Tersembunyi


KURIKULUM TERSEMBUNYI DALAM IMAN KRISTEN

Istilah kurikulum tersembunyi naik daun sejak banyak bermunculannya sekolah negeri di Amerika Serikat (Vallance,1974). Pengertian kurikulum tersembunyi adalah tahap pembelajaran yang tujuan pembelajaran atau isi pembelajarannya tidak dideklarasikan secara terbuka antara pendidik dan murid (Martin,1976). Sebagai contoh, di dalam sebuah kelas bahasa Prancis, seorang guru memberitahukan tujuan pembelajaran kelas tersebut di awal kelas. Keadaan tersebut tidak dapat didefinisikan sebagai kurikulum tersembunyi, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa saat mempelajari bahasa Prancis akan terdapat kurikulum tersembunyi. Seorang peneliti berpendapat bahwa kurikulum tersembunyi bukanlah sesuatu yang dapat menambah pengertian akan mata pelajaran, tetapi membawa murid-murid untuk menganut suatu pemahaman, pendirian, atau pendapat. Kurikulum tersembunyi dapat terjadi di lingkungan luar sekolah, seperti pada lembaga informal yaitu tempat kursus. Kurikulum tersembunyi tidak terikat pada lembaga atau institusi namun terikat kepada proses pembelajaran. Sebagai contoh, sebuah sekolah memiliki pengeluaran besar akibat perbaikan fasilitas sekolah dan menyebabkan tagihan pajak meningkat. Hal itu tidak dapat disebut sebagai kurikulum tersembunyi karena hasil tersebut terjadi tidak melalui tahap pembelajaran (Martin, 1976).
Sifat kurikulum tersembunyi tidak terikat oleh apapun, seperti bahan mata pelajaran, karena tidak dapat mewakili sifat sesungguhnya, walaupun kulit luar dari kurikulum tersembunyi seharusnya berupa bahan pembelajaran (Martin,1976). Sehingga membuat proses pembelajaran yang berharga dari yang sebelumnya dianggap sepele oleh murid-murid. Kurikulum tersembunyi terdiri dari hal yang biasanya terdapat pada bahan pembelajaran akademik, seperti mempelajari fakta tambahan, teori ilmiah atau meneliti obyek tertentu dengan lebih dalam. Kurikulum tersembunyi tidak terikat oleh setting, waktu, maupun murid, tetapi dapat berubah-ubah (Martin, 1976). Oleh karena itu saat proses pencarian untuk menemukan kurikulum tersembunyi, bidang yang harus diteliti harus diperluas dengan setting di luar sekolah. Tidak pula terikat oleh waktu karena manusia yang adalah pelaksana kurikulum tersembunyi, tentu akan berubah. Perubahan itu antara lain perubahan hal yang disukai, pengetahuan akan dunia yang meluas dan keingintahuan meningkat. Tidak terikat oleh murid dapat terlihat dalam ilustrasi berikut. Di antara murid-murid di kelas hanya John yang mengapresiasi cetakan dari lukisan Picasso dengan mengamati setiap lembar cetakan yang ditempel oleh seorang guru di tembok kelas. Tujuan guru tersebut adalah untuk membuat pelajaran seni itu tidak terlihat membosankan, sehingga disajikan dengan cara bukan berupa presentasi di dalam kelas. Cara ini merupakan bagian kurikulum tersembunyi sekolahnya, setidaknya berpengaruh untuk John (Martin, 1976). Kesimpulannya adalah bahwa tahap pembelajaran dalam kurikulum tersembunyi tidak perlu terlihat sistematis dan hasilnya tidak harus terjadi pada semua murid, tetapi hanya murid-murid tertentu saja.
Tujuan pendidik menggunakan kurikulum tersembunyi yaitu sebagai kontrol sosial (Vallance, 1974). Maksudnya yaitu untuk menanamkan nilai-nilai politik, sosial, aturan untuk patuh, dengan kulit luar berupa bahan pengajaran. Kepatuhan di sini merujuk kepada kepatuhan yang tidak diwajibkan untuk semua murid karena disampaikan dengan tertutup. Walaupun disampaikan secara tertutup namun pada praktiknya hasil dari kurikulum tersembunyi dipertunjukkan secara terbuka (Valance, 1974).  Sebagai contoh, hal yang menyatakan salah satu bagian dari kurikulum tersembunyi yaitu selektif saat mempelajari perkembangan zaman dalam mata pelajaran sejarah di dalam kelas (Martin, 1976). Yang tidak sesuai dengan ideologi yang dianut pihak sekolah ataupun pendidik akan dihindari walaupun modul pembelajaran itu sudah disusun dalam silabus yang dibuat pemerintah. Hal yang dianut oleh para pendidik dapat menjadi kurikulum tersembunyi bagi murid-muridnya. Pengertian kurikulum tersembunyi dari sisi pelajar adalah pembentukan ideologi pribadi di luar dari setting pendidikan yang telah disediakan.
Terdapat perbedaan antara kurikulum tersembunyi dengan kurikulum yang ditujukan untuk memperoleh hasil lebih baik yang disebut dengan curriculum proper atau kurikulum-sebenarnya . Hal yang ditekankan dalam kurikulum-sebenarnya adalah kepatuhan yang diwajibkan bagi semua murid dan penekanan nilai kompetisi yang jauh lebih penting daripada kerjasama (Martin, 1976). Untuk membedakan keduanya, peneliti harus memperhatikan pula sesuatu yang biasanya tidak kita perhatikan, karena hal itu dapat pula termasuk dalam kurikulum tersembunyi atau kurikulum-sebenarnya. Seperti meneliti sumber yang digunakan, yaitu aktivitas yang umum digunakan saat pembelajaran contohnya permainan, bahasa yang digunakan pengajar, buku cetak maupun sumber audiovisual bahkan dalam hal yang diprioritaskan dalam kurikulum yang sekolah berikan. Kendala saat menentukan sumber-sumber tersebut terindikasi kurikulum tersembunyi atau tidak adalah terkadang sumber yang satu dengan yang lain yang digunakan, tidak terlihat hasil akhir yang bermakna dan berhubungan satu sama lain. Padahal sebenarnya mungkin saja bila sumber yang satu dengan yang lainnya saling melengkapi membentuk kurikulum tersembunyi yang ingin disampaikan pendidik.
Ilustrasi berikut dapat membantu pemahaman akan hal-hal yang terindikasi dalam kurikulum tersembunyi. Terdapat seorang murid bernama Elita. Ia adalah satu-satunya murid di sekolahnya dalam dua puluh tahun terakhir ini, yang tidak mempercayai bahwa wanita dapat menjadi dokter. Untuk mengetahui jenis kurikulum tersembunyi yang didapat Elita, maka peneliti yang ingin mengetahui kurikulum tersembunyi yang ada di dalamnya harus mencari tahu berbagai tempat dimana Elita berpartisipasi di dalam maupun di luar sekolah. Kurikulum tersembunyi yang diperoleh Elita berupa kumpulan tahap pembelajaran atau isi pembelajaran yang sangat mendominasi Elita (Martin,1976). Kurikulum tersembunyi dapat ditemukan pada apa yang telah dipelajari sebagai hasil praktik, prosedur, peraturan, hubungan, struktur, dan karakteristik fisik yang ada di dalam setting yang diberikan oleh pendidik. 
Ada dua jenis penyampaian kurikulum tersembunyi. Jenis pertama yaitu murid belum diberitahu tentang maksud pembelajaran tetapi murid sudah berhati-hati untuk mempelajarinya, contohnya dalam penggunaan permainan saat proses pembelajaran berlangsung (Martin,1976). Kurikulum tersembunyi yang tersimpan di dalam permaianan dapat berupa pembentukan ideologi  kepada murid untuk melakukan tahap pembelajaran yang kompetitif dan iri hati terhadap teman sebayanya. Jenis kedua yaitu murid sudah diberitahu secara terbuka maksud pembelajaran sehingga murid dapat bersiap-siap untuk berhati-hati olehnya. Untuk menghindari kurikulum tersembunyi, sebagai pelajar, mereka harus mencari tahu berbagai sumber pengetahuan dan meneliti kebenarannya dengan kritis, baik yang ada di dalam maupun di luar sekolah. Itulah senjata yang ampuh bagi para pelajar untuk menghindari dirinya dijadikan subyek kurikulum tersembunyi yang negatif. Sebagai guru, mereka harus semaksimal mungkin membuat kurikulum tersembunyi ( sesuatu yang terjadi ) menjadi kurikulum-sebenarnya ( sesuatu yang dimaksudkan untuk terjadi ) (Martin,1976).
Sebuah contoh suatu pembelajaran terencana yang diintegrasikan dengan kurikulum tersembunyi adalah seperti pada sekolah negeri Amerika di pertengahan abad sembilan belas (Vallance, 19794). Adanya pemisahan antara dunia sekuler dan dunia rohaniawi. Awalnya sekolah negeri di Amerika Serikat berbasis dengan doktrin agama Protestan nonsekatrian, artinya Protestan yang netral, tidak memihak golongan tertentu. Namun semakin lama merosot menjadi agama nonsektarian(Wolterstorff,2002). Hal itu terjadi karena semakin majemuknya bangsa Amerika oleh karena imigrasi besar-besaran yang terjadi di padang belantara Amerika. Sehingga untuk dapat hidup damai berdampingan satu sama lain dan menciptakan keadilan, mereka harus mengesampingkan masalah religius di muka umum. Mengenai kehidupan religius anak adalah tanggung jawab orang tua dan organisasi agama mereka sepenuhnya. Hal itu bukanlah tanggung jawab sekolah. Mereka berkeyakinan bahwa konflik agama dapat menjadi masalah besar bagi persatuan mereka bila dibuka di muka umum. Mayoritas bangsa Amerika berimigrasi dari Eropa ke Amerika untuk melarikan diri dari penindasan religius bangsa Eropa.
Saat ajaran Protestan yag mula-mula di sekolah telah luntur menjadi theisme yang hambar, sebuah ideologi lain yang non-Kristen seringkali masuk mengisi kevakuman yang ditimbulkan oleh lenyapnya ajaran Protestan. Seringkali ideologi-ideologi yang diajarkan di sekolah menjadi agama bagi bangsa yang negaranya demokratis. Salah satu ideologinya adalah Pragmatisme. Pragmatisme merupakan ajaran yang mengagungkan demokrasi. Pragmatisme yang digunakan Amerika bertujuan mengagungkan demokrasi Amerika. Semenjak itu tugas utama sekolah negeri adalah menanamkan nilai-nilai demokratis (Wolterstorff,2002). Kurikulum tersembunyi ditemukan saat sekolah berusaha menanamkan nilai kepada siswa/i nya untuk mengagungkan negara mereka melebihi Tuhan, karena tugas mereka yang terpenting adalah berusaha sebaik-baiknya untuk diri sendiri maupun negara. Sehingga saya pikir, ini adalah salah satu penyebab meningkatnya penganut atheisme di Amerika.
Dalam menyikapi kurikulum tersembunyi, sebagai guru Kristen, diharuskan untuk selalu membangun hubungan pribadi intim dengan Tuhan karena semakin beraneka ragamnya pengetahuan dan cara-cara yang dunia ajarkan. Sehingga seorang guru Kristen harus benar-benar menggumulkan pilihan yang harus diambilnya mengenai cara menyampaikan pengetahuan beserta isi pengetahuan yang akan diajarkannya. Tujuan mengajar yang benar harus tertanam dalam benak seorang guru Kristen yaitu bahwa ia mengajar untuk memperlengkapi kehidupan muridnya dengan iman di dalam tindakan nyata di dunia (Wolterstorff,2002). Sebagai guru pasti akan ada kurikulum tersembunyi yang tersisip saat proses mengajar murid, baik yang disadari maupun tidak disadari, direncanakan atau di luar dugaan. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan. Karena kurikulum tersembunyi bertujuan untuk pembentukan suatu ideologi yang dapat atau ditujukan dianut murid. Sekali guru memberikan kurikulum tersembunyi yang salah, maka akan berdampak buruk bagi muridnya dan dapat menjadi batu sandungan bagi kebenaran Firman Tuhan. Oleh karena itu seorang guru Kristen harus mempelajari bidang yang diajarkan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin, agar ia dapat memberikan yang terbaik yang ia miliki untuk kemuliaan Tuhan. Sehingga murid yang saya didik dapat melihat kebesaran, kemuliaan, dan kasih Allah melaluinya. Untuk mengurangi digunakannya suatu kurikulum tersembunyi yang negatif oleh guru Kristen,yakni melaksanakan kurikulum tersembunyi yang hanya untuk kepentingan dirinya saja, maka seorang guru Kristen harus mengizinkan dirinya untuk mendengar dan peduli terhadap orang lain, termasuk muridnya. Oleh karena pendidikan harus memenuhi kebutuhan murid di masa kini maupun di masa depan saat sudah lulus sekolah. Guru Kristen juga harus mendeklarasikan dari awal bahwa di setiap pelajaran akan disinggung perspektif Kristen dan murid-murid akan menulis refleksi pribadi. Serta menekankan bahwa setiap dari mereka harus sering terlibat dalam diskusi dan kegiatan aktif dalam masyarakat. Agar tidak hanya seperti sifat kurikulum tersembunyi yang hanya mempengaruhi beberapa orang saja, tetapi kurikulum yang seorang guru Kristen ajarkan dapat mendidik setiap pribadi karena setiap pribadi berharga di mata Allah. Sekolah juga harus terbuka terhadap orang tua dalam memberikan informasi yang semaksimal mungkin kepada mereka (Wolterstorff,2002). Sehingga mereka dapat turut serta dalam pembentukan karakter anaknya. Dan yang terpenting seorang guru Kristen harus dapat mendidik muridnya untuk aktif dalam pembentukan kebudayaan Kristen di dalam kehidupan di dunia ini. Itulah pergumulan yang terbesar yang harus dipikirkan dan diperjuangkan oleh seorang guru Kristen.








Referensi

Martin, Jane R,.(1976). What Should We Do with a Hidden Curriculum When We Find One?. Curriculum Inquiry, Vol. 6, No. 2. Retrieved March 14, 2011, from http://www.jstor.org/stable/1179759 .

Vallance, Elizabeth.(1974). Hiding the Hidden Curriculum: An Interpretation of the Language of Justification in Nineteenth-Century Educational Reform. Curriculum Theory Network, Vol. 4, No. 1. Retrieved March 14, 2011, from http://www.jstor.org/stable/1179123

Wolterstorff, Nicholas P,.(2004).Refleksi mengenai Pengajaran dan Pembelajaran Kristen: Mendidik Untuk Kehidupan.Surabaya:Momentum

Analysis of "Cinderella's story" for children


Discussion
In my opinion, Cinderella’s story emphasizes the relationship of human beings, especially the relationship of them in family. It relates for K2 students for their family is still become the center of their world(Women’s and Children’s Health, 2008). Kinds of family will determine kinds of their personality. Based on UNICEF’s report, one of the most causes of misbehavior children is they have broken home family(Anthony K. Kimani, 2010). In my first teaching practice in K3, there are several of my students who misbehave comes from the family which their parents are busy to work so that they lack of their parents’ attention. It makes them lacking of comprehension in understanding the content of the lesson and in doing their responsibility.
There are several things that can be learned through that story about the roles of family’s members. First, the story encourages all of us to love and respect our mother in all kinds of situation. Even if our mother in home is bad for she is our step mother like Cinderella’s step mother, we still have to love and respect her as our parent who has authority over us. God has given parents the authority over their children so that at five point of the Ten Commandment written that children have to respect their father and mother. We respect something not because we want to but because we recognize that we have to respect it for we see the object clearly as it really is in its own right(Robbin S.Dillon, 2010). It means that respect our parents requires us to see our parents as a represent of God’s authority so that we have to show love in our behavior to them even as we want to critique them. So do with our siblings, we have to love and respect them. Like Cinderella, who gave her two sisters home in the palace as the Prince married her. She shared her happiness with her two sisters although they already enslave her in the past and could make her become inferior(associatedcontent from yahoo, 2011).
Second, we learn through Cinderella’s characteristic to redeem the evil that given by her step mother and two sisters with her sincerity and kindness. Jesus has given us the example of being that kind of person. He never curses the people who crucified Him, even He have pray for them. So do we have to love our family although they have made us crying, pain, wound, angry and disappoint because we are Jesus’ follower so that we have to follow His way in forgiving people who betray Him.
Third, this story teaches us to be independent to do our works unlike the two sisters of Cinderella who always command Cinderella to fulfill their own need. God has given all of us the ability to fulfill our own need, so that we can not burden others including our family’s members. In the end, the persons like that will not get anything that meaning for their life, in this story they were not got the Prince’s love. They could get home in a palace and married with great Lords is only because of Cinderella’s kindness.  So that we have to start become independent persons through tidy up our own bedroom after get up, washing our own plate after use it and tidy up our toys after play it.
The third points above are difficult to be implemented, but it does not mean that we can not do that. There is still God that will help us to give us strength to do that. There is a part in human beings’ life that we can not do with our own strength for human beings have sin nature so that we need God to save us(ChristianAnswer.net, 1997). On Cinderella’s story, there is a part which shows the powerlessness of Cinderella as a human being so that her Fairy mother came to help her. In the real life, God is the only one who is love will powerful to help us to love, respect and forgive each other and also He will give us strength in doing our own responsibility through the process not in a click for it makes us glorify Him. We need to pray to Him all the time for His hands uphold our life. If we can do all of those things, actually we already have the real beauty for the beauty of person should be appear not just at her/his physical but also in her/his nature that showed through good relationship with her/his family.
References
associatedcontent from yahoo. (2011). Cinderella : A Behavior Analysis. Retrieved from http://www.associatedcontent.com/article/2636053/cinderella_a_behavior_analysis_pg2.html?cat=72
ChristianAnswer.net.(1997). Why does God allow innocent people to suffer. Retrieved from http://www.christiananswers.net/q-eden/edn-t023.html
Dillon, Robin S.(2010, September).Stanford Encyclopedia of Philosophy: Respect. Retrieved from http://plato.stanford.edu/entries/respect/#EleRes
Kimany, Anthony K. (2010).Free Online Research Paper : Influence of Family Structure on Juvenile Deliquency. Retrieved from http://www.freeonlineresearchpapers.com/family-structure-juvenile
Women and Children Health’s Network.(2008).Parenting and Child Health: Child Development 5-6 years old.Retrieved from http://www.cyh.com/HealthTopics/HealthTopicDetails.aspx?p=114&np=122&id=1868

makna setrika tua


mungkin bila kita melihat setrika tua yg terbuat dari besi dan harus menggunakan arang untuk dapat dipakai menyeterika, memang sangat berharga tepatnya mahal, karena itu barang kuno yg sudah langka.. tapi ada sebuah kisah tentang setrika tua besi itu yg sesungguhnya lebih berharga daripada harga(uang).. diambil dari kisah nyata..

ceritanya dimulai sekitar 35 tahunan yg lalu..

ada dua orang janda yang tinggal dalam 1 rumah.. kedua janda itu kakak beradik dan sama2 ditinggal suami mereka. mereka masing2 sama2 mempunyai 1 orang anak..janda yang adalah kakak itu sebut saja Ani, dan janda yang adalah adik itu sebut saja Ina. Ani punya 1 putra, Ina punya 1 putri.. mereka semua hidup susah dan harus hidup kerja keras. sampai suatu saat Ina merantau ke jakarta untuk bekerja, walaupun hanya menjadi pembantu. sehingga di rumah itu tinggallah 3 orang. mereka hidup sangat memprihatinkan walaupun setiap bulan Ina mengirim gajinya yg ga seberapa itu kepada Ani. Ani juga ikut bekerja dengan membuat kerupuk dan rangginang(sejenis kerupuk, tapi dari beras ketan), lalu menjualnya sambil berkeliling, dibantu dengan 2 anak Ani dan Ina. tidak hanya itu, mereka juga sering membuat 'es mambo' istilah untuk membuat es dari sirop,,lalu dijualnya pula es itu..  namun semuanya itu hanya dapat mencukupi kehidupan mereka sehari-hari dengan terbatas. bahkan mereka sering hanya makan dengan garam saja..malah dapat makan nasi pun mereka sudah bersyukur. karena pernah beberapa kali mereka tidak makan seharian..

karena susah, akhirnya putra Ani itu putus sekolah sampai kelas 6 sd, dan memutuskan untuk bekerja di sebuah peternakan ayam. tapi putri dari Ina itu tetap bersekolah. bahkan saat putri dari Ina itu masuk SMP, ia hanya pulang-pergi sekolah dengan berjalan kaki walaupun jarak SMP nya sangat jauh dari rumahnya, sekitar 1 km lebih. sedangkan ia cuma punya 1 seragam putih. padahal kondisinya yang mengharuskan dia jalan kaki di tengah teriknya matahari, itu membuat seragamnya basah oleh keringat yang membanjir. sehingga ia harus, selalu mencuci seragamnya setelah pulang sekolah, lalu dipakai lagi keesokan harinya. seringkali baju itu tidak kering, sehingga subuh2, ia harus mengeringkannya di depan tungku api. itu membuat baju putihnya menjadi kehitaman.

begitgupula denga putra dari Ani, ia hanya memiliki baju terbatas, baju yang lainnya sudah robek2 dan sudah selayaknya hanya digunakan untuk keseharian di rumah..sehingga ia sering pula, mencuci bajunya setelah ia pulang kerja sore hari, dan mengeringkannya di depan tungku api.. Ani pun menggunakan tungku api apabila ingin mengeringkan pakaiannya..Ani menjadi sedih dan menyesal karena ia tidak dapat membelikan setrika yang saat itu masih mahal harganya..

lalu putra dari Ani itu bertekad ingin membeli setrika, agar ia dan anggota keluarganya bisa menggunakannya. akhirnya ia mulai menabung dengan sangat berhemat, tidak pernah ia jajan untuk dirinya sendiri sedikitpun,, karena ia bertekad untuk membeli setrika itu. sampai pada akhirnya setrika itu mampu dibelinya.. sehingga seluruh anggota keluarganya, bisa mempergunakannya.

pada usia 17 tahun, putra dari Ani itu meninggal dunia, karena kecelakaan. ia yang mengendarai motor saudaranya, ditabrak oleh truk besar di belakangnya.
Ani, Ina, dan putrinya sangat sedih sekali..

dan sampai saat ini Ani menyimpan setrika tua itu dengan baik, dan mewariskan pada cucu Ina, karena Ani tidak mempunyai cucu..kondisi setrika itu tidak rusak, dan masih bagus,, sebenarnya kalu dijual pada para fanatik barang antik, bisa bernilai jual tinggi.. hanya saja cucunya terkagum dan terkesan dengan makna cerita di baliknya...

dan benar2 diingatkan bahwa apa yang orang tua kasih ke anaknya, mungkin anaknya merasa itu biasa aja, dan bahkan sering dilupakan begitusaja.. tetapi ketahuilah, bahwa apa yang anak kasih ke orang tua, itu sangat berarti untuk orang tua itu, dan ia bahkan simpan dan jaga seumur hidupnya....

jadi bersyukur kalau kita masih punya orang tua, dan belajar untuk mengasihinya...saya pun masih terus belajar!!!^^

God bless


(NA)

makna di balik uang receh


suatu ketika, saya beli suatu barang di supermarket. beli 3 gratis 1, itulah yang ada di label promosi barang itu.. karena itulah, akhirnya saya berminat beli barang itu.. setelah bayar di kasir, saya lihat struk belanjanya.. pas saya cek, ternyata promosi itu ga ada..padahal jelas2 label promosi itu masih tertempel di rak tempat barang itu ditaruh. akhirnya saya tanya kasirnya, tapi dia bilang saya disuru lapor ke bagian informasi supermarket itu.. pas saya tanya, petugasnya suruh saya tunggu, karena dia mau panggil spg yg bertanggung jawab di bagian rak itu.. tapi lama banget ga muncul2..akhirnya petugas bagian informasi itu pergi sebentar, lalu langsung mengembalikan uang saya, dan saya disuru mengembalikan barang yang saya beli itu juga.. karena memang promosi itu sudah tidak berlaku ternyata walaupun label promosinya masih ada di rak tadi. nah, petugas itu mengembalikan uang kembalian berupa receh seratusan dan lima ratusan sejumlah 3 ribu.. saya sempet kesel. soalnya saya merasa pelayanan di supermarket itu kurang profesional, dimulai dari label promosi yang masih ditempel padahal uda ga berlaku, tunggu lama di bagian informasi, dapet uang receh lagi kembaliannya.. sampe saya bilang mau tuker uangnya pake uang kertas..
setelah dari supermarket itu saya pergi ke tempat lain, di tengah jalan, ternyata ada anak2 jalanan.. setelah anak2 itu ngamen, saya kasih uang receh saya itu untuk mereka..

setelah itu, saya jadi berpikir dan berefleksi,, ternyata di dalam hal yang biasanya kita sungut-sunguti itu sebenarnya itulah hal yang sebenarnya bisa kita syukuri..
melihat masalah dari sisi positiv itu baik n pada akhirnya membuat hati kita jadi plong ga ngeganjel rasa ga enak,, walaupun sulit karena harus mengalahkan keinginan daging,,,,,tapi harus belajar bersyukur, karena apa yang Tuhan ijinkan terjadi itu lebih baik, daripada apa yang kita inginkan terjadi.. :)

(NA)

Tolong aku!!!!(cerpen ini diadaptasi dari kisah nyata)


Di suatu desa, ada banyak para pengusaha yang membuka usaha dagang. Mereka rata-rata membuka toko. Akan tetapi , banyak sekali dari mereka yang membuka usahanya bukan dengan cara yang jujur. Mengapa? Karena pada awalnya mereka memulai usaha mereka bukan dengan hasil keringat sendiri.
Termasuk keluarga yang satu ini, sebut saja keluarga Ing. Keluarga ini mempunyai 2 orang putri dan seorang putra. Kedua putri mereka sangat cantik sekali dan putra mereka tampan. Mereka sekeluarga berencana untuk membuat sebuah usaha keluarga. Akan tetapi mereka takut dan khawatir kalau usaha mereka itu nantinya tidak membuahkan keuntungan besar. Sehingga suami-istri keluarga Ing memutuskan untuk pergi ke Gunung Kawi, untuk bertapa dan memuja roh yang dapat membantu usaha keluarga ini di masa depannya. Mereka membawa sesajen saat pergi ke tempat itu. Anak-anak mereka tidak tahu tentang hal ini.
Entah apa yang terjadi saat mereka sedang berada di gunung itu. Entah pula apa yang mereka dapatkan. Hanya saja sepulang dari sana, mereka menyiapkan sebuah meja sesajen yang selalu diisi dengan buah-buahan dan dupa harum di suatu ruangan khusus di dalam rumah mereka. Lalu keesokan harinya, suami-istri keluarga Ing memulai pembangunan toko mereka. Mereka membuka toko sejenis toko kelontong. Pembangunan itu selesai dalam waktu 1 bulan. Sampai akhirnya toko tersebut siap diisi oleh barang2 yang akan dijual. Dan toko tersebut menjadi toko kelontong terlengkap di desa itu. Bukan hanya terlengkap, tapi juga terlaris di desa itu.
Anak-anak dari keluarga Ing ini, khususnya anak pertama yang adalah anak perempuan mereka, yang sudah lulus SMA, ikut membantu menjadi kasir di toko itu, sebut saja namanya Yin. Ia setiap hari selalu membantu orang tuanya di toko tersebut. Adik-adiknya biasanya hanya membantu di saat-saat tertentu saja, dimana mereka libur. Tanpa kenal lelah, Yin membantu orang tuanya melayani para pelanggan dengan ramah dan ikut pula membantu membuat buku kas untuk menghitung untung rugi mereka dalam 1 hari.
“Mi, Yin udah itung nih uang kita hari ini, kita dapet untung 300.000, terus udah Yin masukin juga ke dalem buku kas ya mi.”, kata  Yin.
“Oke. Oh iya, besok kamu tolong ke kota ya, ke toko grosir Wijaya, bareng mobil pick up, kita mau stock barang baru, nanti kamu awasin barang-barang yang dimasukkin ke pick up nya. Liat sesuai list ini  atau ga”, jawab Ibu Ing.
Mereka biasanya mengambil barang-barang di toko grosir itu setiap 2 minggu sekali. Dan biasanya saat mengangkut barang-barang yang dibeli Yin, tidak hanya mobil pick-up nya saja yang mengangkutnya, tetapi juga mobil truk milik toko grosir tersebut ikut mengangkutnya. Dan Yin selalu turut apa kata mami papinya, apalagi dalam hal membantu bisnis keluarganya itu, ia yang selalu pergi ke toko grosir tersebut.
Satu tahun pun berlalu sudah. Usaha mereka, berjalan dengan baik. Bahkan menjelang tahun kedua bisnis keluarga ini, suami-istri keluarga Ing memutuskan untuk menjadikan toko mereka ini sebagai minimarket karena saking larisnya toko mereka. Itulah kabar baiknya. Dan kabar buruknya adalah tiba-tiba ada kabar misterius yang muncul. Terdengar bahwa pembantu keluarga Ing, yang biasa melayani di rumah mereka, meninggal dunia. Tidak diketahui sebabnya, tiba-tiba saja ia ditemukan meninggal dunia di kamarnya. Akhirnya keluarga Ing membiayai pemakaman pembantunya ini dan memakamkannya di kampung asal pembantunya.
Keesokan harinya, setelah hari itu pun berlalu, mereka melanjutkan usaha mereka kembali, bahkan setelah toko itu menjadi minimarket, pelanggan pun melimpah ruah.
“Pi, kita mesti cari kasir baru nih, kita mesti buka 3 jalur kasir, biar ga ngantri panjang gini kalo orang mau belanja”, kata Bu Ing.
“Iya si Mi, kalo ga ntar anaknya si Asan aja kita tawarin jadi kasir, sekalian ntar minta dia tawarin temennya juga jadi kasir. Ntar sore dah saya ke sono”, kata Pak Ing.
“Yin aja kalo ga yang ke sono, soalnya kan Yin udah kenal banget sama anaknya Om Asan. Dulu kan sempet sering maen bareng pas kecil”, seru Yin.
“Oh ya udah. Sekalian juga bilangin masalah gajinya per bulan 400.000 ya, ntar per harinya kita kasih uang makan 10.000”, kata Pak Ing.
Setelah Yin pergi ke rumah Pak Asan, masalah kekurangan kasir pun telah beres. Anak-anak Pak Asan dan temannya mau menjadi kasir di toko itu. Keesokan harinya, setiap seminggu sekali Yin selalu pergi ke kota, ke toko grosir Wijaya, langganan keluarganya untuk mengambil barang pesanan. Semenjak menjadi minimarket, Yin selalu ke toko itu setiap seminggu sekali, tidak seperti dulu yang hanya 2 minggu sekali. Ternyata dari semenjak Yin pertama kali disuruh mengambil barang pesanan, ia diam-diam suka terhadap anak laki-laki pemilik toko tempatnya mengambil barang pesanan di kota itu, sebut saja namanya Yang. Diam-diam, Yin suka memperhatikan Yang. Ia merasa sangat senang apabila Yang melayaninya dalam memberikan barang-barang pesanan keluarganya itu. Ia selalu berusaha memulai percakapan dengan Yang. Yang pun menanggapinya dengan baik dan penuh senyum.
“Ko, ini daftar belanjaan dari papi saya,” kata Yin.
“Oke. Tunggu sebentar ya,” jawab Yang.
Diam-diam, Yin memperhatikan saat Yang mengambil barang-barang yang dipesan Yin di tempat asal barang-barang tersebut dan mengaguminya saat Yang menyuruh pesuruhnya untuk membantu mengambilkannya, karena menurutnya pemuda itu sangat berwibawa. Ia sungguh sangat menikmati wajah Yang selama 30 menit. Akhirnya Yin mengetahui bahwa nama pemuda itu “Yang” dari ayahnya yang pada suatu hari pernah memanggilnya Yang.
“Barang-barangnya sudah ditaruh di mobil pick-up mu. Ini bonnya. Terima kasih ya!”kata Yang.
“Sama-sama, terimakasih juga ya!”jawab Yin
Sebenarnya Yin ingin sekali mengobrol lebih lama dengannya, hanya saja ia tidak tahu topik pembicaraan apa yang tepat untuk memulai mengobrol dengannya. Akhirnya ia tidak jadi memulai percakapan dengan Yang, karena ia takut kalau-kalau nanti ia terlihat garing di depan Yang. Yin pun pergi denga rasa sedikit kecewa karena hari itu ia tidak berhasil memenuhi keinginan hatinya yaitu mengobrol dengannya.
 Di tengah perjalanan pulangnya itu, Yin melihat ada seorang nenek tua di tengah jalanan pasar yang dilewatinya saat pulang, sedang berjualan mainan anak-anak yang terbuat dari kertas, seperti wayang-wayangan, topeng-topengan, dan ular-ularan. Ia sangat iba melihatnya. Ia bisa memperhatikan nenek itu, karena tiba-tiba ada karung sayuran yang jatuh dari sebuah becak, sehingga menghalangi jalan tempat kendaraan lalu lalang. Karena jalan di depan pasar itu sempit, sehingga mobil pick-up Yin tertahan di belakang becak tersebut. Dan saat ia melihat ke pinggir jalan pasar itu, terlihatlah nenek itu di pandangannya. Ia memperhatikan selama 3 menit. Ia selalu tak tega bila melihat manula yang masih bekerja keras. Segeralah ia turun untuk membeli semua mainan nenek itu.  Totalnya 25 ribu rupiah. Nenek itu hanya tersenyum dan berkata, “Atuh nuhun ya Neng!” Seusai membereskan barang-barangnya, nenek itu bergegas pulang. Yin terpikir untuk menjual mainan tersebut di minimarket keluarganya.
Yin pun segera naik mobil pick-up nya untuk bergegas pulang. Sesampainya di minimarketnya, ia langsung menyuruh pegawai minimarketnya untuk mengangkut barang-barang di minimarketnya dan menuju Ibu Ing untuk melaporkan hasil belanjaannya serta memberitahunya info tambahan, kalau ia membawa barang jualan yang baru yang akan dijual di minimarket itu. Ibunya mengizinkannya untuk menjual mainan dari nenek itu serta menaruhnya di kasir. Sehingga gampang terlihat oleh para pengunjung yang datang untuk berbelanja. Dan minggu itupun berlalu seperti minggu-minggu sebelumnya. Minimarket itu pun selalu ramai pengunjung.
Keesokan harinya, tibalah hari Imlek. Ada kebiasaan yang selalu dilakukan oleh keluarga Ing. Mereka sekeluarga biasanya pergi ke Klenteng yang letaknya tak jauh dari rumahnya. Setelah mereka sekeluarga sembahyang di sana, mereka membungkus sembako yang akan dibagikan ke orang-orang Chinese peranakan di daerah sekitar itu, terutama bagi kaum manula yang ada di sana. Hal itu dilakukan karena hari kemarinnya, Yin memberikan ide pada orang tuanya agar melakukan tindakan dermawan itu karena ia sangat memperhatikan manula. Dan biasanya yang mengantar barang-barang sembako itu adalah Yin dan para pesuruhnya.
“Mi, aku berangkat ke rumah Mak Amoy ya,” kata Yin.
Mak Amoy adalah nenek yang tinggal hanya seorang diri di rumahnya. Dan Mak Amoy memiliki penyakit TBC dan reumatik, sehingga saat berjalan ia terlihat pincang karena menahan sakit yang ada di kakinya. Setiap bulannya, nenek ini mendapat uang gaji dari keponakannya yang bekerja di kota. Tapi uang yang diberinya tidaklah seberapa. Dan kebetulan Yin mengenal nenek ini. Sehingga Yin selalu memberi sembako berupa beras, minyak, dan mie instan, setiap bulan kepada Mak Amoy. Inilah yang membut Yin agak dekat dengan Mak Amoy. Ditambah Mak Amoy adalah seorang nenek yang baik hati. Setiap kali Yin mampir ke rumah Mak Amoy, ia selalu menyempatkan diri untuk bercerita tentang kesehariannya, termasuk tentang Yang, lelaki yang Yin suka. Mak Amoy sering memberikan nasihat terhadap masalah-masalah yang dihadapinya.
Seminggu kemudian, tibalah hari yang sangat istimewa bagi Yin, karena itulah hari ulang tahunnya. Kebetulan hari itu adalah hari Minggu, dimana Yin selalu pergi ke kota untuk mengambil barang-barang untuk minimarketnya. Saat itu Yin mengajak anak Pak Asan, yang bernama Disa untuk menemaninya. Disa mengetahui dari adiknya Yin bahwa hari itu Yin berulang-tahun. Saat mereka tiba di toko grosiran langganannya itu, kembali, Yin merasa sangat gembira karena melihat wajah Yang lagi.
“Ko, kali ini air mineralnya ditambah 10 dus lagi,” kata Yin
“Cie, mentang-mentang hari ini kamu ulang tahun, kamu beli air mineralnya banyakan buat dikasih ke aku ya?hehe,” kata Disa.
“Oh, hari ini kamu ulang tahun ya? Selamat ya! Semoga panjang umur dan sukses ya!” seru Yang.
“Terima kasih ya Ko!”kata Yin dengan hati yang sangat berbunga-bunga karena ia tidak menyangka bahwa Yang akan memberikannya ucapan selamat.
“Oh iya nama kamu siapa?” tanya Yang.
“Namaku Yin, kamu?” kata Yin.
“Ehm, cie…!!” seru Disa.
“Nama saya Yang. Oh iya, barang-barangnya udah beres semua, ini bonnya” jawab Yang.
“Makasi banyak ya. Kita pergi dulu ya. Dah!” kata Yin.
Saat perjalanan pulang, wajah Yin terlihat berseri-seri karena ia sangat senang sekali, di hari ulang tahunnya itu ia mengalami kejadian yang istimewa bersama orang yang istimewa di hatinya. Disa pun hanya ikut tersenyum bila melihat wajah Yin.
Dua tahun sudah, keluarga Ing menjalankan bisnis keluarganya itu, yakni minimarket tersebut. Mereka menjadi orang yang kaya raya. Mereka pun merenovasi rumah mereka. Bahkan mereka memagari rumahnya dengan pagar besi yang tertutup rapat, agar orang-orang di kampunya tidak ada yang dapat mencuri di rumahnya karena kekayaan mereka yang melimpah.
Pada hari Selasa di bulan ketiga minggu kedua, saat Yin sedang membantu orang tuanya di minimarketnya itu, tiba-tiba saja ia lemas dan jatuh sakit. Hal itu sangat mendadak. Padahal sebelumnya Yin sehat-sehat saja. Sehingga, Yin diangkat oleh para pesuruhnya ke rumahnya, yang kebetulan tidak berapa jauh dari minimarket itu. Kebetulan saat itu, orang tua Yin sedang pergi ke kota untuk menghadiri pesta nikah saudaranya. Badan Yin tiba-tiba menjadi kejang-kejang sambil matanya terbuka lebar. Badannya memerah. Lalu adiknya yang saat itu sudah pulang sekolah, menelpon dokter untuk datang ke rumahnya. Saat dokter datang, dokter melihat seperti gejala masuk angin biasa. Tapi Yin seperti orang yang tidak sadar diri walaupun matanya terbuka lebar dan badannya kejang-kejang.
Ketika orang tua Yin tiba di rumah, mereka kaget melihat Yin seperti itu. Mereka pun merawat Yin dengan baik. Mereka membuatkannya bubur untuk makan Yin pagi, siang dan malam. Dan mereka pun tetap membeli obat Yin. Di hari keempat, badan Yin menjadi sangat dingin, ia tidak mau makan sama sekali dari pagi. Wajah dan tubuhnya menjadi sangat pucat. Orang tuanya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya. Dan saat pagi hari di hari kelima, tiba-tiba saja Yin ditemukan sudah tidak bernyawa lagi di kamarnya. Orang tua dan keluarganya san, gat sedih. Hari itu minimarket keluarga Ing tidak beroperasi. Kedua orang tua Yin menangisi kepergian anaknya itu. Dan tiba-tiba mereka teringat bahwa mereka belum memberikan tumbal akibat pemujaan mereka di Gunung Kawi. Apalagi bulan ketiga itu adalah waktu dimana usaha mereka tepat 2 tahun.
Saat itu Disa sedih sekali mendengar kabar ini, tidak hanya dia tetapi Mak Amoy. Bahkan semalam, Mak Amoy sempat mendengar ada seorang gadis yang berteriak, “Tolong! Tolong saya! Tolong jangan bawa saya!” Hanya saja Mak Amoy tidak tahu itu siapa. Setelah ia mendengar kabar ini, barulah ia tahu, bahwa yang meminta tolong itu adalah Yin. Lalu Mak Amoy hanya bercerita kepada keponakannya saja yang pada hari itu kebetulan sedang pulang ke rumah Mak Amoy. Dan keluarga Yang pun ikut diberitahu keluarga Ing bahwa anak mereka, yakni Yin, telah meninggal dunia. Yang pun ikut berduka, karena ternyata Yang pun menyimpan perasaan suka dalam hatinya terhadap Yin. Hanya saja, ia tidak berani mengungkapkannya secara langsung. Sehingga ia mengekspresikannya lewat membantu melayaninya untuk mengambilkan barang-barang yang dipesan Yin saat ke toko grosirnya.
Tetapi kejadian ini tidak membuat orang tuanya itu takut dan berhenti memuja. Malah, mereka selalu mencari pembantu baru untuk dapat dijadikan tumbal selanjutnya. Karena mereka lebih menakuti kemiskinan daripada kedamaian dalam hidup.
Sungguh tidak adilnya orang tua Yin. Mereka membuat hidup anaknya berakhir hanya demi segudang harta. Padahal hidup anaknya lebih berharga dari semuanya itu. Bahkan Yin, anak mereka, sedang menikmati hidupnya yang bahagia. Apakah sebenarnya mereka berhak melakukan hal ini terhadap Yin? Tidak. Bahkan Yin sendiri pun tidak rela hidupnya diambil begitu saja. Tetapi hak hidupnya diambil oleh karena keserakahan orang tuanya. Sungguh amat disayangkan, karena Yin memiliki rupa yang cantik dan kisah bermakna yang sudah terbangun di dalam hidupnya, tetapi tamat sudah dengan akhir yang tidak jelas dan menggantung. Dari cerita ini, saya merefleksikan bahwa ternyata keserakahan itu selalu tidak membawa kepada kedamaian dan sukacita. Keserakahan itu membuktikan bahwa kita tidak dapat menerima keadaan hidup yang sudah Tuhan beri saat ini. Sehingga manusia dengan keterbatasannya mencari cara yang dipikirnya sangat ampuh menolongnya, seperti lewat pemujaan kepada roh halus, yang biasanya manusia pikir dapat menandingi kekuatan Tuhan. Intinya kita harus bersyukur selalu atas keadaan hidup kita. Jangan pernah menuntut lebih. Biarkanlah kita berbeda dari yang lain dan itulah warna kehidupan manusia yang unik dan indah.


by: 170v1ana A.

"Thanks for being here" or "thanks for coming"... what's the matter?


I have many many times to hear or see that sentences expressed by many people in many kinds of situation and places. I assumed that sentences just a lip service. It seemed ordinary words for me, no matter what for it is just formality in manner. Moreover if the people who said that sentences act or show indifferent to me along my attendance in that situation or place. I felt that that's words is not for me. But recently I make a mistake. I was not attend in one of meeting that I have to attend. On that meeting, not just me who did not come in there, but also lots of my friends too. My friend who came on that meeting said to me and my friends that a person who lead that meeting felt a little bit disappoint because she actually have prepared a games that just can be play if there are many people. Through that, I reflect on my self. I reminded again that my presence in this world is precious because I have served and I can serve no matter what kind of treatment I get through people in place or situation that i have being present. It proved by that meeting. Now I will appreciate people who said "thanks for being here" or "thanks for coming" to me because actually that is a honor for me although the people who said that said with deep heart or not. I will still appreciate it without let it just be a wind that passed in my ears or eyes without left anything to me. Also I will try to always present in place or situation that invite, allow, or require me to come. It's not about me but about them.



Through this I want to say thanks for being here, here in my life by meaningful reason from my deep heart to my family, all of my friends, all of my teachers. I realize I can not live alone without your fulfillment in me. Thanks for all of your suggestion, critique, idea, helping, joking, information, and so many other things. Thank you, God bless you:)